Amadea K. Nastiti


just an exquisite cat lady around

Pengobatan Alternatif

Pengobatan alternatif tentu sudah tidak asing di telinga kita, dimana jenis pengobatan ini juga cukup sering digunakan sebagai alternatif atau pilihan dalam mengobati penyakit, selain pengobatan medis. Contoh dari pengobatan alternatif yang sering ada antara lain akupuntur, bekam, obat herbal, dan sebagainya. Alternatif lain yang sering digunakan untuk menjaga kesehatan antara lain walk on pebbles atau berjalan melewati kerikil halus tanpa menggunakan alas kaki.

Selama ini orang berolahraga lari dengan memakai sepatu. Dengan demikian secara otomatis banyak orang akan menyangka bahwa berlari atau jogging dengan kaki telanjang sangat menyakitkan dan berisiko luka pada telapak kaki dan cedera pada bahagian tubuh yang lain (misalnya, pergelangan kaki, lutut dan pinggang). Ternyata pemikiran seperti ini menyimpang dari kebenaran.

Pada jaman dahulu ketika sepatu masih belum diciptakan, manusia sanggup berlari dan berjalan tanpa alas kaki. Untuk mendaki gunung, mereka lakukan dengan kaki telanjang. Memburu di dalam hutan, kaki mereka juga tidak dialasi. Sepatu lari (jogging shoes) baru diciptakan pada tahun 70-an. Sejak itulah, telapak kaki manusia terpisah dan terisolasi dengan bumi. Saat ini sepatu lari yang serba hi-tech dengan bantalan tumit yang tebal-tebal sudah membanjiri pasaran dan konsumen dimanjakan dengan pilihan yang hampir tidak ada batasnya.

Sebagus apa pun pabrik menciptakan sepatu lari, mereka tidak akan pernah bisa membuat  sepatu yang benar-benar cocok dengan karateristik kaki setiap orang. Para ahli bahkan mengatakan sepatu lari yang diciptakan di jaman modern ini bukan hanya mengubah bentuk kaki para olahragawan tetapi juga membuat kaki mereka lebih mudah cedera.
Menurut pantauan sejumlah peneliti dari Harvard University di Amerika Serikat, berlari tanpa alas kaki ternyata lebih bermanfaat untuk tubuh manusia. Peneliti Harvard University, Prof Daniel Lieberman dan rekan-rekannya, melakukan pengamatan terhadap pelari dari Amerika dan Kenya. Dari perbandingan gaya berlari kedua group ini, para peneliti menemukan bahwa dua per tiga dari Kenya berlari dengan kaki telanjang. Cara mereka mendaratkan kaki juga sangat berbeda dengan cara yang dilakukan oleh para pelari yang memakai sepatu. Para pelari tanpa alas kaki mendaratkan kaki mereka pada bahagian depan (fore-foot strike) atau bahgian tengah telapak kaki (mid-foot strike). Berlari tanpa alas kaki (mendaratkan bahagian depan atau tengah telapak kaki terlebih dahulu). Benturan dari dampak telapak kaki setelah menyentuh landasan bergerak ke kaki bahagian atas secara rotasional. Ketika benturan ini menelusuri melalui tikungan yang hampir 90 derajat pada pergelangan kaki ke arah kaki bahagian atas, dampaknya sudah banyak terserap dan berkurang. Dengan demikian kecederaan pada lutut dan pinggang mungkin terhindari.  Sedangkan yang berpakaian sepatu lari mendaratkan kaki mereka pada bahagian tumit (heel strike). Berlari dengan memakai sepatu (mendaratkan tumit kaki terlebih dahulu). Benturan dari dampak telapak kaki setelah menyentuh landasan bergerak ke kaki bahagian atas secara vertikal. Hal ini bisa mengakibatkan kecederaan pada lutut dan pinggang.

Saat kaki tidak dibatasi sepatu, berlari bertelanjang kaki dengan bebas akan menghasilkan gerakan yang mengaktifkan otot-otot di kaki sehingga sirkulasi darah ke bagian jantung menjadi lebih lancar. Fungsi sirkulasi yang lancar ini bisa mencegah bekuan darah di kaki, mengurangi stres pada sistem kardiovaskular dan menurunkan tekanan darah.

Menurut filosofi kuno, aliran energi prana atau Chi dari bumi bisa kita serap secara otomatis melalui kaki. Hal ini membuat orang berteori secara logika bahwa dengan berlari tanpa alas kaki akan memperbanyak jumlah Chi yang diserap oleh tubuh.

Orang merasa segar ketika menginjak dengan kaki telanjang di atas hamparan batu kecil berbentuk bulat lonjong. Perasaan rileks dan segar pun langsung menyeruak ke sekujur tubuh ketika bebatuan menekan telapak kaki kita. Menurut pakar pengobatan tradisional Prof Hembing Wijayakusuma, tekanan batu pada telapak kaki memberikan rangsangan bioelektrik pada organ tubuh yang berhubungan dengan titik syaraf telapak kaki, ”Rangsangan bioelektrik memperlancar aliran darah sehingga tubuh menjadi segar.” Karena facilitas hamparan batu yang tersedia sangat terbatas, maka orang mencari alternatif melalui terapi pijat refleksi kaki dengan menggunakan tangan. Berlari dengan tanpa alas kaki juga bisa memberi manfaat terapi pijat refleksi pada telapak kaki walaupun sifatnya agak kecil (mild). Kalau pengemar refleksi kaki juga merangkap seorang pelari, maka ini akan menguntungkan karena si pelari tidak perlu lagi mengeluarkan satu rupiah pun untuk mendapatkan efek refleksi melalui lari tanpa alas kaki.

Namun kekhawatiran seperti bahaya menginjak sesuatu yang tajam maupun tetanus sering menyertai, sehingga kaki sebaiknya diberi alas yang mampu memberikan sensasi mirip dengan bertelanjang kaki, sehingga dapat dengan nyaman digunakan dan nyaman beraktivitas.

Walaupun masih belum terbuktikan secara ilmiah, banyak pelari yakin bahwa berlari tanpa sepatu lari bisa mengurangi kecederaan pada pergelangan kaki, lutut dan pinggang. Sebab penyerapan dampak yang dihasilkan dari tumbukan antara telapak kaki dengan permukaan bumi akan teralih dari lutut dan pinggang ke pergelangan kaki. Pergelangan kaki itu sendiri adalah natural absorber yang paling efektif.  Berlari di permukaan tanah tanpa sepatu lari juga membantu menguatkan struktur tulang kaki dan mencegah perubahan bentuk kaki.

 

Sumber:

http://kesehatan.kompasiana(dot)com/alternatif/2011/07/11/mau-panjang-umur-lepas-alas-kaki-anda/

http://kaki-ayam.weebly(dot)com/


1. estiningtiyas

pada : 25 October 2012

"menurut anda pengobatan alternatif itu bermanfaat tdk bagi kesehatan? apa hanya sekedar sugesti saja"


2. Amadea

pada : 30 October 2012

"Hai tiyaas :)
Sugesti tentu sangat berpengaruh,, karena saya pernah baca bahwa kesehatan juga dipengaruhi oleh pikiran (atau sugesti)... sehingga walaupun uda minum obat super tapi tetep gak percaya bisa aja gak sembuh :) hal yang sama juga pada pengobatan alternatif, namun kadang pengobatan alternatif juga melakukan pendekatan berbeda pada sakit yang dialami, sehingga bisa bermanfaat walaupun gak tau kok bisa gitu hhi :p
Terimakasiiih atas pertanyaannyaa ;)"


3. dena arianti

pada : 09 November 2012

"selamat malam mbak deaaa :)
saya mau nanyaaa.. kira2, alat apa sih yang akan anda buat untuk membantu dalam pengobatan traditional ini ?? :) sehingga dapat memberikan nilai "plus" pada pengobatan alternatif.. makasih"


4. amadea

pada : 09 November 2012

"malem juga mbak denaa :)
dari artikel ini sih bisa membuat alat refleksi kaki yang lebih nyaman digunakan, soalnya kadang kan kalo sepatu/sandal refleksi itu gak enak dipakenya, terus juga modelnya nggilani... jadi mungkin modelnya dibuat wedges yang g terlalu tinggi gitu misalnya :p jadi tekanan pada telapak kaki menyesuaikan sendiri biar nyaman juga :D
yaa... gitu lah hha
terimakasiiih ;)"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :