Amadea K. Nastiti


just an exquisite cat lady around

Instrumen Fisiologis dengan Kaidah Linear dan Non Linear

Artikel ini merupakan review dari perkuliahan pada tanggal 18 September 2012.

Seperti yang kita ketahui, sistem linear merupakan fixed system, dimana pada kasus linear, suatu input memiliki output tertentu yang sudah fix, dimana dalam sistem ini cukup digunakan linear programming dalam prosesnya. Non linear programming sebaiknya hanya digunakan pada kasus-kasus yang memiliki kesensitivitasan tinggi. Dalam sistem ini, penggunaan linear programming tentu akan membingungkan program itu sendiri, sehingga digunakan non linear programming. Mengapa sistem ini dikatakan sensitif? Jadi sebenarnya input tersebut memiliki masing-masing output tertentu, namun mengapa dianggap sama? Karena output yang dimaksud sangat sensitif memiliki masing-masing poin yang sangat berdekatan, dimana daya pisahnya sangat kecil, sehingga kadang keadaannya dianggap sama. Hal ini berlaku dalam beberapa input yang memiliki output yang sama, serta pada input yang memiliki beberapa output yang berbeda.

Kaidah non linear pada aplikasinya paling sering ditemui dalam bentuk games, seperti DoTA atau The Sims. Selain itu, games catur adalah games yang memiliki kaidah non linear, dimana walaupun terlihat simpel, namun karena pada terdapat 170.000.000.000.000.000.000.000.000 (atau 17x1028) cara untuk memainkan 10 langkah pembukaan pertama, sehingga games catur memiliki banyak kemungkinan, dimana hal ini akan sulit dilakukan dengan kaidah linear.

Game Catur

Langkah pertama dalam game catur

Contoh aplikasi kaidah linear adalah face detection, yaitu software yang dapat mendeteksi wajah, sedangkan aplikasi face recognition menggunakan kaidah non linear, karena ia tidak hanya menentukan mana wajah mana bukan, namun juga dapat mengenali siapa pemilik wajah tersebut.

Face Recognition

Face Recognition

Dalam bidang medis kaidah linear sudah sangat banyak digunakan, dimana hampir semua peralatan yang umum digunakan seperti ECG, USG, sphygmomanometer, syringe pump, infus, dan sebagainya. Sedangkan untuk peralatan yang menggunakan kaidah non linear, hanya sebatas dalam diagnosa saja. Sebagai alat bantu diagnosa, kaidah non linear juga mulai banyak dikembangkan, misal untuk mengenali adanya kanker paru pada hasil X-Ray thorax, maupun pada hasil pengukuran ECG yang menunjukkan adanya kelainan jantung (dapat mengenali ritme jantung normal maupun tidak normal). Selain itu, kaidah non linear dapat digunakan sebagai alat bantu simulasi organ tubuh, sehingga dapat mencakup berbagai kemungkinan respon sebagaimana organ aslinya.

Dalam perkembangan medis, contoh lain dari penggunaan kaidah non linear yaitu adanya prosthetic robotic arms atau dapat disebut juga lengan palsu robot.

Prosthetic Robotic Arm

Prosthetic Robotic Arm

Lengan Palsu Robotik

Pada lengan palsu ini, digunakan metode targeted muscle reinnervation (TMR). Saraf yang semula mengontrol lengan yang hilang digunakan mengontrol prostetik. 

Teknologi TMR merupakan prosedur memindahkan sisa saraf lengan ke lokasi otot alternatif seperti otot dada dan lengan atas. Saraf-saraf yang ditransplantasi tersebut menyebabkan rangsangan listrik dari otak mencapai otot dada atau lengan atas. Residu saraf itu—yang semula membawa perintah dari otak untuk memproduksi gerakan lengan, pergelangan tangan, dan tangan— dikoneksikan ke otot dada atau lengan atas. Otot itu beraksi ibarat sebuah pendorong yang memperbesar sinyal ke level yang dapat ditangkap elektroda.

Ketika pasien yang kehilangan lengan berupaya menggerakan lengan, impuls yang dihasilkan sisa saraf lengan tadi menyebabkan penegangan atau kontraksi di otot dada yang menghasilkan sinyal electromyogram (EMG) memadai. Sinyal itu dialihkan ke sebuah mikroprosesor di lengan artifisial yang membaca sinyal dengan menggunakan kaidah non linear dan memerintahkan gerakan kepada lengan.  Sebuah mikroprosesor diprogram guna mengenali sinyal yang dikirim itu sehingga lengan bergerak sesuai perintah. Melalui TMR, ketika orang yang kehilangan lengan berpikir menggerakkan lengannya, prostetik secara otomatis bergerak sesuai keinginan.

Cara kerja secara jelasnya dapat dilihat pada interaktif berikut ini:

 

Sumber:

http://female.kompas(dot)com/read/2010/05/25/03573148/Lengan.Robot.dan.Pikiran

http://diomondsilver.blogspot(dot)com/2012/06/claudia-mitchell-wanita-tangan-kiri.html

http://www.inttelix(dot)com/face-recognition-technology.php

http://www.sciencedaily.com/releases/2007/11/071111182522.htm

http://www.aan.com/elibrary/neurologynow/?event=home.showArticle&id=ovid.com:/bib/ovftdb/01222928-200905030-00019

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :